Arsip untuk ‘Kliping Resensi Buku’ Kategori

h1

Perempuan Merdeka: Kisah Aktivisme Kaum Perempuan di Timor Leste

November 10, 2008

Written by Webmaster
Sunday, 22 April 2007
Judul asli buku: Independent Women: The story of women’s activism in East Timor
Judul terjemahan: Perempuan Merdeka: Kisah Aktivisme Kaum Perempuan di Timor Leste
Penulis: Irena Cristalis dan Catherine Scott
Penerjemah: Esrom Aritonang
Tebal buku:  xiii+225 halaman

Buku Perempuan Merdeka: Kisah Aktivisme Kaum Perempuan di Timor Leste ini menarik untuk dibaca dan direnungkan. Buku ini kaya akan data-data sejarah dan antropologis yang tak hanya menggambarkan Read the rest of this entry ?

h1

Buku Skandal Laut Timor Diluncurkan

Oktober 15, 2008

KUPANG – Buku “Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta” diluncurkan di Kupang, NTT, hari ini, Senin (14/7/2008).

Buku yang ditulis Ketua Pokja Celah Timor dan Gugusan Pulau Pasir Ferdi Tanoni ini diluncurkan di kediaman resmi Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang.

Peluncuran ditandai penyerahan secara simbolis kepada Pemerintah Indonesia melalui Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Piet Alexander Tallo, SH dan kepada bangsa Indonesia melalui Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur Melkianus Adoe Read the rest of this entry ?

h1

Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur

Oktober 15, 2008

Kesaksian Seorang Wartawan Tentang Integrasi Timor Timur
Judul : Saksi Mata Perjuangan
Integrasi Timor Timur

Penulis : Hendro Subroto

Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996

Tebal : xii + 250 halaman

Timbul suatu pertanyaan apakah Paus akan mencium tanah sesampai di
Timor Timur, ketika Paus Johanes Paulus II berkunjung ke Timor Timur
pada tahun 1991. Jika Paus mencium tanah, berarti Paus tidak mengakui
Timor Timur sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ternyata tidak. Setelah menginjakkan kakinya di Pelabuhan Udara
Komoro, Dili, Paus langsung berjabat tangan dengan pejabat pemerintah
pusat, Pemerintah Daerah Timor Timur dan pemuka masyarakat. Setelah
itu, Paus langsung berjalan di tengah-tengah para penyambutnya Read the rest of this entry ?

h1

Important Bird Areas in Timor-Leste; Key sites for conservation

Oktober 15, 2008

Pamer? Nggaya? Mungkin ya. Apapun itu namanya, saya girang ketika buku yang merupakan hasil kerja sejak tahun 2002 di Timor-Leste itu akhirnya sampai di tangan saya. Tidak ada darah dan air mata dalam prosesnya. Walaupun ada beberapa kali kelelahan, tetapi kegembiraanlah yang mendominasi proses pengerjaannya selama lima tahun itu.

Awalnya adalah pertanyaan sederhana. Jika saya hanya punya uang sedikit untuk pelestarian alam, di mana uang ini pertama-tama harus digunakan? Singkatnya hendak mencari daerah prioritas. Lantas bagaimana mencarinya? Indikatornya pakai apa? Sambil cengar-cengir pringisan ra mutu saya berkata, pakai burung, dan lantas dengan gagah berkata “kami hendak mencari daerah prioritas untuk pelestarian alam dengan menggunakan burung sebagai indikator”.

Kenapa burung? Begini, burung itu ada di mana-mana, mulai dari kutub sampai daerah bermatahari banyak. Burung juga relatif mudah dikenali. Burung merupakan kelompok hewan yang sudah banyak dipelajari. “Taksonomi” burung relatif sudah stabil. Pula, burung praktis sensitif terhadap perubahan lingkungan. Klop, syarat-syarat sebagai indikator dimiliki oleh burung. Read the rest of this entry ?

h1

Pembantaian Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional

September 15, 2008
Pembantaian Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional Cetak E-mail
Pembantaian Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional

Judul : Pembantaian Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional
Penulis : Joseph Nevins
Penerbit : Galang Press
Tahun : 2008
Genre : Sejarah
Tebal : 375 Halaman
ISBN : 978-602-8174-05

Banjir Darah di Timor Timur

Dahulu wilayah Timor Timur sempat menjadi provinsi termuda di Indonesia. Namun, setelah jajak pendapat dan banyak warga yang menghendaki lepas dari wilayah NKRI, Timor Timur akhirnya memilih menjemput kemerdekaannya. Tepat pada 20 Mei 2002 Timor Timur menghibarkan bendera kemerdekaan setelah penyerahan pemerintahan oleh UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor – Pemerintahan Peralihan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Timur) kepada Kepala Pemerintahan terpilih.

Selepas merdeka, bangsa Timor Timur sedikit bernafas lega. Kebebasan, perdamaian, ketenangan, serta harapan-harapan menatap masa depan mulai terpancar dari wajah-wajah anak-anak bangsa. Namun, sesekali hela nafas mereka diselimuti kecemasan, perasaan takut, serta trauma yang mendalam. Mereka begitu tercekam perasannya ketika teringat peristiwa masa lalu. Darah membanjir, nyawa melayang, jeritan tangis anak-anak dan wanita memecah kesunyian, beribu rumah dibakar, dan beribu orang mencari perlindungan. Timor Timur benar-benar dalam penderitaan. Dan keadaan itu terus berlanjut sampai saat mereka menerobos lorong kemerdekaan Read the rest of this entry ?